Showing posts with label Religius. Show all posts
Showing posts with label Religius. Show all posts

Tuesday, March 29, 2011

Rancangan Besar

Rut 4:14-15


Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki."


Bacaan Alkitab Setahun:Mazmur 88; Roma 16; Ulangan 23-24

''Hidup itu penuh dengan kemalangan,'' demikian kata-kata pahit yang keluar dari mulut seorang janda bernama Naomi (Rut 1:20,21). Bayangkan kondisi seorang wanita yang baru saja ditinggal oleh suami dan bahkan anak-anak laki-lakinya. Sang janda yang malang ini hidup di tengah kelaparan di perantauan bersama kedua menantunya. Ia menolak dipanggil Naomi--yang artinya kesenangan, dan meminta dipanggil Mara, yang berarti pahit. Dan pada masa tuanya, ia hanya punya keinginan sederhana, yaitu menikmati masa tua yang tenang dengan menimang cucu. Namun, semua itu menjadi tidak mungkin sebab kedua anak lelakinya mati tanpa meninggalkan keturunan!

Bukankah kita juga demikian? Hidup kita dipenuhi dengan mimpi dan harapan. Banyak hal kita cita-citakan. Namun, ketika sesuatu terjadi dalam hidup ini dan mengandaskan impian kita, maka kita merasa hidup dan semangat kita pun hancur bersamanya. Dalam kondisi demikian, kita pun semakin sulit memahami bahwa Tuhan pasti memiliki rancangan yang baik. Bahwa Dia memiliki “mimpi” bagi hidup kita dan pasti menjadikan segala sesuatu baik pada waktunya.

Kita tahu, cerita Naomi ini adalah kisah yang berakhir dengan kebahagiaan. Pada akhirnya Alkitab menulis bahwa Naomi memangku cucunya dengan gembira pada hari tuanya (4:16). Dan bukan hanya itu, mimpi Allah bagi dirinya juga terwujud, karena pada akhirnya Naomi mengenal bahwa Allah memelihara hidupnya (ayat 14). Hari ini, jika kita menilik lagi mimpi kita yang kandas, lihatlah rancangan besar-Nya; Dia selalu ada dan memelihara dengan sempurna. (Henry Sujaya Lie/Renunganharian.net)

Mimpi besar kita mungkin bisa saja kandas, namun kita harus yakin bahwa penyertaan Tuhan tidak pernah lepas.

Diambil dari : jawaban.com

Sungguh Amat Baik

Kejadian 1:31


Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 87; Roma 15; Ulangan 21-22

Pada hari-hari penciptaan, selama enam hari Allah menciptakan bumi dan segala isinya serta semua fungsi pendukung kehidupan yang ada. Selama enam hari itu, ada sesuatu yang menarik perhatian saya, setiap kali Tuhan selesai dengan apa yang ia kerjakan dihari itu, Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Bahkan di hari ke enam, Allah melihat segala yang dijadikannya sungguh amat baik.

Apa yang Tuhan lakukan membuat saya melakukan refleksi bagaimana saya bekerja. Jarang sekali saya di akhir hari berdiam diri sebentar dan melihat apa yang telah saya kerjakan, apa lagi puas dan bersyukur atas hasil kerja saya. Seharusnya kita meneladani apa yang Tuhan lakukan, setiap kali mengakhiri pekerjaan, kita duduk diam sebentar dan melihat hasil kerja kita. Melihat apa yang baik yang telah kita lakukan, dan bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Dalam Efesus 2:10 dituliskan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Jadi, apapun yang sedang kita kerjakan saat ini bukanlah suatu kebetulan dan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita saja. Pekerjaan kita adalah bagian dari rencana Allah. Apapun pekerjaan kita, itu adalah sebuah ibadah, sebuah pelayanan untuk memuliakan Allah dengan hidup kita. Jadi mari hari ini, kita melihat pekerjaan kita dengan cara pandang yang baru, dan melakukannya sebaik mungkin sehingga di akhir hari kita dapat berkata pada apa yang kita kerjakan, “Sungguh amat baik.” (Puji Astuti/Jawaban.com)

Kita ini buatan Allah diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya.

Diambil dari : jawaban.com

Mengumpulkan Manna

Keluaran 16: 15-16


Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 84; Roma 12; Ulangan 15-16

Sebagai manusia kita butuh makanan untuk tetap bertahan hidup, dan Tuhan tahu itu. Untuk itu, pada masa bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, Tuhan memelihara mereka dengan memberikan manna setiap hari. Anda harus memperhatikan ayat di atas baik-baik, bagaimana Musa menyampaikan perintah Tuhan.

“Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwanya.”

Tuhan meminta setiap orang mengambil menurut kebutuhan mereka. Tidak satu orang mengambil untuk satu sukunya, tapi tiap-tiap orang. Paling banyak, mereka ambil untuk satu keluarganya.

Saya berbicara tentang manna disini, karena ini adalah roti dari sorga, yang berasal dari Tuhan sendiri. Hari ini mungkin kita tidak menemukannya lagi secara fisik, namun sebagai manusia, kita bukan hanya manusia jasmani saja, kita juga manusia rohani. Manna rohani ini masih Tuhan berikan hingga hari ini, melimpah dalam hidup kita. Tuhan meminta tiap-tiap hari, masing-masing dari kita mengambil manna itu dan mengkonsumsinya. Caranya? Renungkanlah firman Tuhan dan lakukanlah. Sama seperti Anda mengambil roti dan memakannya.

Jika Anda berkata saya cukup mendengar kotbah seminggu sekali, maka pertanyaan saya apakah Anda cukup makan seminggu satu kali saja? Atau mungkin Anda baca satu kitab selama satu hari, lalu seminggu kemudian baru membacanya kembali? Jika itu yang Anda lakukan, saya akan bertanya bisakah kita makan satu bakul nasi lalu tidak makan selama satu minggu? Anda butuh makan tiap-tiap hari, makanan yang baru, yang fresh dari Tuhan. Hal itulah yang akan membuat kita sehat baik rohani maupun jasmani.(Puji Astuti)

Sama seperti tubuh jasmani butuh makanan yang fresh dan sehat, manusia rohani Anda butuh manna rohani yang fresh setiap hari. Jangan makan makanan basi.

Diambil dari : jawaban.com

Seorang Sahabat Setia

Yohanes 15:15


Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 86; Roma 14; Ulangan 19-20

Beberapa tahun lalu, sebuah penerbit saat akan mengumpukan hymne dari gereja Babtis mereka membuat sebuah komite untuk memilih lagu-lagu yang akan dibukukan. Didalam komite tersebut ada para theologian, pendeta dan musisi.

Suatu waktu mereka membahas sebuah lagu kuno, In the Garden, dan memperdebatkan apakah akan memasukkan lagu ini atau lagu baru. Lirik lagu itu berbunyi, “He walks with me, and He talks with me, and He tells me I am His own.”

Karena banyak menggunakan kata saya (me), salah seorang komite berkomentar negative tentang lagu tersebut. Dia berkata, “Ini terlalu egois!”

Menanggapi pernyataan tersebut, Russell Dilday yang menjadi direktur Southwestern Seminary membuka Alkitabnya dan mulai membaca Mazmur 23, “Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Ayat 1-3).

Akhirnya, lagu kuno tersebut masuk dalam buku Hymne Babtis tersebut.

Dari kisah diatas kita bisa belajar bahwa menyatakan bahwa Tuhan selalu bersama kita dan perduli dengan keadaan kita bukanlah sesuatu yang egois. Dia adalah sahabat kita yang perduli dengan kehidupan pribadi kita. Jadi jika Anda merasa tidak seorangpun perduli dengan keadaan Anda, ingatlah bahwa Tuhan Yesus mengasihi dan perduli pada Anda. (Dr.Jack Graham/Crosswalk.com)

Tuhan Yesus adalah sahabatmu, Dia perduli dengan kehidupanmu dan permasalahanmu. Kamu tidak sendiri.

Diambil dari : jawaban.com

Jangan Jadi Pribadi Yang Cuek

Yakobus 5:9-10

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89; Lukas 1; Ulangan 25

Ketidak pedulian adalah awal kejatuhan manusia, itu adalah kesimpulan saya ketika merenungkan kisah Adam dan Hawa. Mengapa saya bisa menyimpulkan hal ini? Anda bisa membacanya dalam Kejadian 3, bahwa saat Hawa berbincang seru tentang pohon terlarang itu Adam ada di dekatnya. Adam mendengar dan tahu apa yang dibicarakan oleh Hawa dan si ular.

Kejadian 3:6 mencatat, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Adaikata Adam perduli dengan istrinya, ia akan bertindak dengan menghardik ular itu dan menasehati istrinya. Namun hal itu tidak pernah terjadi.

Dosa ketidak pedulian ini sepertinya menjadi dosa turunan hingga saat ini. Karena ketidak pedulian kita, seorang istri atau suami jatuh dalam dosa seksual, atau seorang teman jatuh dalam korupsi. Andaikata saja kita tidak bersikap seperti Adam dan mengambil tindakan seperti menasehati dan mengingatkan orang tersebut, tentunya hal itu tidak akan terjadi.

Hari ini mari kita belajar dari kesalahan Adam, mari kita menaruh kepedulian kepada orang sekitar kita. Karena jika kita tidak peduli, dan orang tersebut akhirnya terhilang maka Tuhan akan menuntut pertanggung jawaban atas orang tersebut pada kita. (Puji Astuti/Jawaban.com)

Tuhan menuntut Anda untuk peduli kepada orang sekeliling Anda, karena Dia terlebih dulu menunjukkan kepedulian-Nya kepada Anda. Jangan jadi orang yang cuek dan egois.

Diambil dari : jawaban.com