Tuesday, March 29, 2011

Seorang Sahabat Setia

Yohanes 15:15


Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 86; Roma 14; Ulangan 19-20

Beberapa tahun lalu, sebuah penerbit saat akan mengumpukan hymne dari gereja Babtis mereka membuat sebuah komite untuk memilih lagu-lagu yang akan dibukukan. Didalam komite tersebut ada para theologian, pendeta dan musisi.

Suatu waktu mereka membahas sebuah lagu kuno, In the Garden, dan memperdebatkan apakah akan memasukkan lagu ini atau lagu baru. Lirik lagu itu berbunyi, “He walks with me, and He talks with me, and He tells me I am His own.”

Karena banyak menggunakan kata saya (me), salah seorang komite berkomentar negative tentang lagu tersebut. Dia berkata, “Ini terlalu egois!”

Menanggapi pernyataan tersebut, Russell Dilday yang menjadi direktur Southwestern Seminary membuka Alkitabnya dan mulai membaca Mazmur 23, “Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Ayat 1-3).

Akhirnya, lagu kuno tersebut masuk dalam buku Hymne Babtis tersebut.

Dari kisah diatas kita bisa belajar bahwa menyatakan bahwa Tuhan selalu bersama kita dan perduli dengan keadaan kita bukanlah sesuatu yang egois. Dia adalah sahabat kita yang perduli dengan kehidupan pribadi kita. Jadi jika Anda merasa tidak seorangpun perduli dengan keadaan Anda, ingatlah bahwa Tuhan Yesus mengasihi dan perduli pada Anda. (Dr.Jack Graham/Crosswalk.com)

Tuhan Yesus adalah sahabatmu, Dia perduli dengan kehidupanmu dan permasalahanmu. Kamu tidak sendiri.

Diambil dari : jawaban.com

Jangan Jadi Pribadi Yang Cuek

Yakobus 5:9-10

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89; Lukas 1; Ulangan 25

Ketidak pedulian adalah awal kejatuhan manusia, itu adalah kesimpulan saya ketika merenungkan kisah Adam dan Hawa. Mengapa saya bisa menyimpulkan hal ini? Anda bisa membacanya dalam Kejadian 3, bahwa saat Hawa berbincang seru tentang pohon terlarang itu Adam ada di dekatnya. Adam mendengar dan tahu apa yang dibicarakan oleh Hawa dan si ular.

Kejadian 3:6 mencatat, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Adaikata Adam perduli dengan istrinya, ia akan bertindak dengan menghardik ular itu dan menasehati istrinya. Namun hal itu tidak pernah terjadi.

Dosa ketidak pedulian ini sepertinya menjadi dosa turunan hingga saat ini. Karena ketidak pedulian kita, seorang istri atau suami jatuh dalam dosa seksual, atau seorang teman jatuh dalam korupsi. Andaikata saja kita tidak bersikap seperti Adam dan mengambil tindakan seperti menasehati dan mengingatkan orang tersebut, tentunya hal itu tidak akan terjadi.

Hari ini mari kita belajar dari kesalahan Adam, mari kita menaruh kepedulian kepada orang sekitar kita. Karena jika kita tidak peduli, dan orang tersebut akhirnya terhilang maka Tuhan akan menuntut pertanggung jawaban atas orang tersebut pada kita. (Puji Astuti/Jawaban.com)

Tuhan menuntut Anda untuk peduli kepada orang sekeliling Anda, karena Dia terlebih dulu menunjukkan kepedulian-Nya kepada Anda. Jangan jadi orang yang cuek dan egois.

Diambil dari : jawaban.com

'Maluku, Kobaran Cintaku' Akan Difilmkan


Jakarta - Sebenarnya tidak ada pemikiran di benak Ratna Sarumpaet untuk mengeluarkan novel 'Maluku, Kobaran Cintaku'. Awalnya Ratna ingin membuat film soal kerusuhan Ambon, Maluku.

Namun banyak pertimbangan hingga Ratna mengeluarkan tulisannya dalam bentuk novel terlebih dahulu. Di antaranya ia ingin banyak bercerita soal fakta-fakta kerusuhan Ambon tahun 1999.

"Tidak mungkin saya langsung sajikan di film yang cuma 1,5 jam. Akan banyak yang harus dijelaskan soal fakta-fakta," kata Ratna saat berbincang dengan detikhot di peluncuran novel perdananya yang berjudul 'Maluku, Kobaran Cintaku' di Plasa Teater Jakarta, Jumat (11/3/2011).

Maka itu novel 'Maluku, Kobaran Cintaku' diluncurkan terlebih dahulu. Dengan harapan calon penontonya bisa mengerti terlebih dahulu cerita detail yang ingin ia sampaikan soal konflik kerusuhan Ambon.

Sampai saat ini belum banyak persiapan yang dilakukan Ratna untuk filmnya. 'Maluku, Kobaran Cintaku' baru sampai tahap penulisan skenario dan pembentukan tim produksi.

"Rencananya film, dan masih akan film. Buku dulu karena masyarakat Indonesia harus tahu dulu kenapa?" kata Ratna.

Diambil dari : detik.com

Novel '9 Summers 10 Autumns': Anak Sopir Angkot Jadi Direktur di New York


Jakarta Kisah sukses selalu menarik diungkapkan. Tidak hanya menjadi sumber inspirasi buku-buku kiat, cerita tentang orang-orang yang 'berjuang' dari bukan siapa-siapa menjadi "hero" kini banyak mengisi lembar-lembar novel. Salah satunya bisa disimak pada novel berjudul 'Summers 10 Autumns' karya Iwan Setyawan.

Judul lengkap novel itu adalah '9 Summers 10 Autumns: dari Kota Apel ke The Big Apple'. Dari sub-judulnya saja mudah ditebak, ini memang cerita tentang sebuah perjalanan menuju kesuksesan. Kota Apel merujuk pada Malang. Ya, ini kisah tentang seorang anak supir angkot dari sebuah kota di Jawa Timur yang sukses meniti karier di perusahaan besar di jantung Amerika Serikat. Menjual mimpi?

"Bermimpi itu boleh. Tapi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita mengeksekusi mimpi itu. Bangun dari mimpi dan mulailah bekerja," jawab Iwan ketika ditemui di acara peluncuran novelnya tersebut di Oyster, Plaza Senayan, Kamis (24/3/2011).

Yang jelas, novel tersebut memang didasari oleh kisah kehidupan nyata yang pernah dialami Iwan. Dan, layaknya novel yang berisi kisah sukses yang memang menjadi tren belakangan ini, buku Iwan diawali dari kisah masa kecil yang serba pas-pasan. Ia pun tidak henti-hentinya membanggakan ibunya yang tidak lulus SD, namun jago dalam hal manajemen keuangan keluarga.

"Ibu saya tahu bagaimana cara membelah 1 telur untuk 3 anaknya yang masih kecil. Ibu saya tahu berapa liter nasi yang harus di masak dan bisa habis tanpa tersisa saat dimakan oleh suami dan 5 anaknya," kenangnya.

Iwan juga mengisahkan perjuangannya untuk bisa kuliah di IPB dan memperoleh pekerjaan hingga menjadi seorang direktur dengan gelar lulusan terbaik. Bahasa yang dipakai Iwan untuk menulis buku tersebut ringan dan mudah diikuti. Pembaca seperti membaca sebuah buku harian atau seperti mendengarkan teman yang bercerita.

Lalu, bagaimana ceritanya, Iwan yang telah menjawab sebagai direktur di New York itu kini bisa berada di Tanah Air dan meluncurkan novelnya?

Iwan memang telah melepas jabatan sebagai Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research. "Tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kerinduan rumah kecil dan tanah air saya," ujarnya diplomatis.

Pria kelahiran Batu, Malang 2 Desember 1974 itu memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun ke-10 kariernya di New York. Kepulangan itu menjadi momen reflektif bagi lulusan Fakultas MIPA IPB pada 1997 itu. Ia ingin berbagi cerita dan memberi inspirasi kepada masyarakat luas. Maka, lahirlah novel yang kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu.

Diambil dari : detik.com

Luncurkan 'Empat Elemen', The Hermes Populerkan Sastra Amal


Jakarta Sebuah kelompok penulis yang lahir dari pertemanan di media sosial yang menamakan diri The Hermes meluncurkan buku. Hasil penjualannya akan disumbangkan ke korban bencana alam. Lewat karya berupa cerpen, puisi, dan grafis, mereka mencoba mempopulerkan "sastra amal".

Peluncuran buku berjudul 'Empat Elemen' itu berlangsung di Times Bookstore, Pejaten Villaege, akhir pekan lalu. Ini memang bukan 'gebrakan' pertama The Hermes. Sebelumnya, mereka pernah meluncurkan eBook berbayar.

'Empat Elemen' sendiri sebelumnya juga telah terbit dalam format eBook. Namun, banyaknya permintaan dan adanya sokongan dana percetakan dari Helios Capital dan Yayasan Warna-warni, lahirlah 'Empat Elemen' dalam bentuk buku. Dengan tagline Hermes for Charity Vol. 2, buku itu tampil dengan sampul yang mewah.

Buku tersebut berisi 26 cerpen, 2 puisi, 1 faksimili dan 1 karya grafis dari 30 penulis. Hasil penjualannya akan disumbangkan untuk pengembangan program perpustakaan bagi anak-anak di Yogyakarta yang terkena imbas letusan Gunung Merapi.

"Kami bermaksud mengingatkan pembaca akan 4 elemen yang membentuk alam semesta, yaitu air, api, tanah dan udara," ujar Editor 'Empat Elemen' Jia Effendie. Menurut dia, bencana yang terjadi karena keempat elemen tersebut saling terpisah, hingga terjadi kematian. Sedangkan, jika bersatu akan terjadi kehidupan.

"Dengan membaca 'Empat Elemen' diharapkan pembaca akan mencintai dan memelihara elemen tersebut demi kelangsungan hidup bersama," lanjutnya.

Salah satu penulis yang karyanya dimuat dalam buku itu bernama Galuh Parantri Pramono. Lewat prosanya yang berjudul 'Selamat Pagi Jakarta', ia menggambarkan kondisi ibukota sehari-hari yang diwarnai oleh polusi udara yang sangat parah.

diambil dari : detik.com

Novel 'Malam Terakhir Konspirasi Cinta' Di-Launching


Surabaya - Novel 'Malam Terakhir Konspirasi Cinta' karya Cakra Mustofa di-launching. Acara launching dibuka dengan pembacaan puisi dari beberapa seniman Komunitas Budaya Matahari yang dipandu oleh Rousdiansyah.

Menurut penulis Cakra Mustofa, novel karyanya ini berlatar belakang situasi dan gejolak politik era reformasi 1998. Dia mengaku bahwa novel yang ditulis itu terinspirasi dari dari teman-teman pergerakan mahasiswa pada waktu itu.

"Novel malam terakhir sebenarnya terinspirasi dari kisah nyata gejolak politik dan roma cinta teman-teman pergerakan mahasiswa pada reformasi 1998, sehingga mendorong aku untuk menulisnya," kata Cakra Mustofa (40), kepada para tamu di-launching novelnya, di taman Toko Buku Toga Mas Jalan Pucang Anom Timur No 5, Surabaya, Sabtu (26/2/2011).

Sedangkan untuk judul novel Malam Terakhir Konspirasi Cinta setebal 214 halaman, Cakra Mustofa menjelaskan dalam alur cerita novel memang setiap konflik, intrik dan cinta selalu diakhiri pada malam hari.

"Untuk judul novel Malam Terkakhir Konspirasi Cinta, au mengambilnya memang setiap konflik dan intrik cinta, memang selalu diakhiri pada malam hari, memang bukan setiap malam tetapi selalu diakhiri pada setiap malam dari malam pertama hingga malam terakhir," ujar Cakra Mustofa, yang juga pendiri Komunitas Budaya Matahari.

Sebelumnya, Cakra Mustofa sendiri telah menerbitkan beberapa novel seperti Sang Penyair, Takdir, Demi Cinta Atas Nama Tuhan, dan Malam Terakahir Konspiransi Cinta, yang menurutnya dari novel yang terakhir ini sangat berbeda dari novel-novel sebelumnya.

Dari terbitan novel saya yang kesatu, kedua dan ketiga dan ini adalah terbitan yang keempat, sangat berbeda dan sangat menyimpang dari terbitan yang terdahulu. Karena isinya lebih banyak intrik, cinta, politik militerisme dan kekuatan kita. "Sebelumnya memang saya lebih banyak berisi cinta dan keTuhanan" tambahnya

Selain me-launching novel Malam Terakhir konspirasi Cinta, rencananya novel itu akan ditayangkan dalam bentuk sinetron FTV yang saat ini sedang dalam penggarapan.

"Kita rencananya akan menayangkan juga ke sinetron kisah novel ini, yang saat ini masih dalam penulisan scenario," ujar Cakra Mustofa, yang mempunyai tanggal lahirnya sama dengan kematian Kahlil Gibran 10 April.

Diambil dari : detik.com

Bunda Slank Menerbitkan Buku


Jakarta - Merasa belum puas membagikan pengalaman dalam melepaskan tiga personil Slank dari jerat narkoba kepada media massa selama ini, Iffet Veceha Siddharta atau biasa disebut Bunda Iffet akhirnya merangkum semua kisah itu lewat sebuah buku. Rock ‘N Roll Mom, judul buku yang diterbitkan oleh penerbit Hikmah (Kelompok Mizan) itu, secara resmi diluncurkan akhir pekan silam di markas Slank sendiri, Jalan Potlot, Jakarta Selatan.

“Bunda sering diwawancara wartawan televisi tapi merasa tidak puas. Karena wawancara di TV itu nggak lama. Saya ingin membagikan apa yang saya alami ketika mengobati anak-anak ini, tapi rasanya kok banyak sekali,” kenang Bunda Iffet, ibu kandung dari pemain drum Bimbim dan telah menjadi manajer Slank sejak pertengahan 90an.

Jawaban dari keresahan Bunda Iffet tersebut datang pada awal 2009 silam. Yakni setelah pihak penerbit Mizan membaca sebuah artikel panjang mengenai Bunda Iffet di salah satu surat kabar. Penulis yang kemudian dihubungi dan ditawarkan untuk menuliskan memoar mengenai Bunda Iffet oleh Mizan saat itu adalah jurnalis Darmawan Sepriosa. “Saya menyanggupi meskipun saat itu juga menyatakan bahwa saya belum pernah menulis novel,” cerita Darmawan yang kemudian menyatakan bahwa proses pengerjaan buku ini memakan waktu sekitar dua bulan.

Untuk memperkuat kesan feminin gaya bertutur dalam buku ini, penerbit menunjuk Laura Khalida sebagai penyuntingnya. “Sebetulnya tugas saya adalah mendandani buku ini. Mungkin karena Mas Darmawan lelaki dan Bunda perempuan. Jadi maksudnya saya disuruh untuk memberi sentuhan femininnya,” jelas Laura yang mengaku telah melakukan wawancara secara intens dengan Bunda Iffet sebelum menyunting buku ini.

Rock ‘N Roll Mom bukan buku yang ditujukan untuk pembaca ibu-ibu saja. Meski ditulis dalam sudut pandang seorang ibu dan pada sampulnya tertera testimonial dari Giring Ganesha, vokalis Nidji, “Penting untuk dibaca setiap keluarga Indonesia sebagai pedoman mendidik anak.” Menurut vokalis Kaka, ada hal lain yang membuat segmen pembaca buku ini menjadi luas.

“Buku ini juga tentang jatuh bangunnya Slank. Banyak cerita tentang Slank di dalam buku ini. Gue rasa Slankers juga akan tertarik untuk membacanya,” tukas Kaka.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa grup musik Slank pernah sedemikian dekatnya dengan narkotika dan obat-obatan di pertengahan 90an. Hal itu juga yang sempat membuat Slank pecah pada saat penggarapan album keenam, Lagi Sedih. Vokalis Kaka, pemain drum Bimbim dan personil baru pada saat itu pemain bas Ivanka adalah mereka yang sudah diketahui secara luas sebagai tiga personil Slank yang pernah terjerumus. Sedangkan dua personil lain yang masuk menjelang album Tujuh dan sempat ikut pada tur promo album Lagi Sedih, pemain gitar Abdee Negara dan Ridho Hafiedz, dikenal sebagai personil Slank yang ‘bersih’.

Bunda Iffet, yang merasa bahwa kecanduan anak-anaknya sudah tidak tertolong lagi, turun tangan dengan memutuskan menceburkan diri ke manajemen Slank pada tahun 1996 hingga akhirnya bisa membuat Slank berhenti dari narkoba pada tahun 2000. Perjuangan dan kesabaran seorang ibu yang merangkap manajer band itulah yang sedikit banyak tertulis di dalam buku setebal 303 halaman berjudul Rock ‘N Roll Mom ini.

“Hampir semua ibu pada saat itu menyembunyikan anaknya yang kena narkoba. Atau paling bagus dibuang ke pesantren,” ujar Bimbim soal perjuangan ibunya. “Cuma Bunda yang berani bilang dan menyebarkan ke seluruh dunia, ‘nih anak gue pecandu.’ Justru itu jadi semangat dan kekuatan batin bagi anak-anaknya untuk melewati masa-masa kritis itu.”

Diambil dari : detik.com